Rabu, 24 Februari 2016

My New Journey


Sebuah cerita tentang apa yang dapat dirasakan namun susah untuk diungkapkan. Ini semua soal hati, perasaan, rasa, dan segala yang terjadi. Menjalani sebuah hubungan yang sudah berjalan 33 bulan dan aku ternyata dapat bertahan sekitar 8 bulan bermain dengan jarak yang kurang bersahabat. Semua yang terjadi sangat jauh dari perkiraan. Namun setiap orang tidak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari dan seterusnya.




Aku menganggap ini adalah seklumit kisah tentang perjalanan cinta kami. Berawal dari sepasang manusia yang mungkin menganggap hal ini tidak mungkin terjadi kepadanya, namun dengan seiring berjalannya waktu, perjalanan hidup mengajarkan mereka untuk sesegera mungkin belajar lebih dewasa. Selangkah demi selangkah dapat kami lalui bersama baik sesah maupun senang. Awalnya, jangankan berpikir kami akan berada dalam hubungan jarak jauh seperti ini, membayangkan hal itu saja kami tidak pernah. Kami menganggap hubungan kami paling sempurna, dan kami juga menganggap bahwa kamilah yang paling bahagia, karena Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk hanya sekedar bertemu di waktu yang sangat singkat, mengingat bahwa aku adalah seorang yang sedang menjalani pendidikanku di boarding school. Kesempatan bertemu hanya pada saat sabtu - minggu saja, dan kami tidak pernah melewatkan setiap minggunya untuk tidak bertemu kecuali ada suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan. Namun seiring berjalannya waktu Tuhan memberi sedikit demi sedikit ujian dengan level yang berbeda – beda. Dulu aku merasa bahwa aku orang yang paling bahagia memilikinya. Bahwa dia adalah seorang yang tak pernah lupa membuatku bahagia, walau hanya dengan meberikan ucapan selamat pagi hingga sekedar mengucap selamat tidur. Namun kini harus disadari bahwa seseorang bisa saja berubah karena beberapa hal termasuk karena jarak.
Aku tidak pernah menyalahkan keadaan atas semua yang terjadi saat ini, aku yakin dan percaya semua ini adalah proses untuk sebuah pencapaian. Begitu banyak hal yang membuat masalah itu ada. Entahlaah sepertinya tidak perlu dijelaskan panjang lebar disini. Yang jelas, ilmu kehidupan yang masih melekat erat adalah tentang kesabaran dan keikhlasan. Bukan tidak ingin mengungkaapkan segala yang mengganjal di hati, namun sepertinya diam dan mengkoreksi diri sendiri adalah lebih baik. Mungkin sesekali terucap, semata – mata hanya ingin supaya dia mengerti apa yang ingin aku ungkapkan.
Aku sadar, saat ini dia sedang sibuk – sibuknya menata karirnya, begitupun denganku. Aku juga sedang berjuang di semester akhirku. Tapi taukah kamu? Bahwa pengait hubungan yang terbatas jarak hanyalah komunikasi dan kepercayaan, itu saja. Entah, tak bisa dibayangkan jika suatu hubungan yang terpisah jarak begitu jauhnya, terbatas pula komunikasinya. Seperti mengharap sesuatu yang tak pasti pada benda mati. Memang saat ini aku masih belajar untuk memahami ini, aku sedang berada pada masa transisi. Pergantian situasi dimana yang dulu ada, dan kini menjadi tiada. Dulu sepertinya kami tidak ingin melewatkan sedikitpun apa yang sedang kami lakukan masing-masing. Namun kini, begitu kesibukan itu merebut dia dariku. Aku kehilangan sosok dirinya yang dulu tak pernah absen membuatku begitu bahagia. Aku tau, begitu dia berusaha untuk tidak seperti ini, namun keadaan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk seperti dulu.
Aku rindu dia yang dulu?iyaa, sangat rindu. Aku rindu dengannya yang dulu begitu perhatian kepadaku. Aku rindu ketika dia marah hanya karna aku jarang makan, sakit, tidur larut, dan masih banyak lagi. Aku tahu semua ini bukan semata-mata kesalahan darinya. Keadaan yang memaksa dia menjadi seperti sekarang ini. Akupun mengerti bahwa hatinya bergejolak dengan semua yang sedang ia jalani sekarang. Tapi itu semua masih bisa diatasi hanya dengan sebatas Komunikasi. Jangankan untuk bercerita panjang lebar seperti dulu, berkeluh kesah padanya saja kini aku tidak berani. Aku takut mengganggu waktu istirahatnya setelah dari pagi hingga malam pekerjaaan menguras tenaga dan fikirannya. Tapi tidak masalah, walau aku sudah tak lagi bisa berkeluh kesah padanya seperti dulu, aku masih punya Tuhan untuk mendengar segala keluhanku. Walau Tuhan tidak menjawab secara langsung seperti jika aku mengeluh pada dia, paling tidak hatiku sedikit merasa tenang.

Yang selalu aku ingat dari pesan seseorang kepadaku adalah mungkin saat ini kita sedang berpuasa, berpuasa untuk bisa bertemu dengan Lebaran, yang mana itu berarti kita sedang dalam tahap pengujian untuk mencapai tujuan kita bersama. Yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan terbuang. Percayalah,semua akan indah pada waktunya.

This is the journey of my life
a lot of joy and sorrow
but life must go on
I love you with a sincere heart, no matter how far the distance block.
-24022016-

*rose*

Selasa, 07 Juli 2015

Keluhku Dalam Diam

Senin, 6 Juli 2015. 03.49

Sampai dini hari ini aku tetap tak bisa memejamkan mataku. Pikiranku masih melayang memikirkan dia yang sedang menikmati waktunya di keramaian kota. Ada rasa rindu yang menggebu di hati ini berharap ada sebaris kata atau juga serangkai nada suara yang mengantar tidurku malam tadi, tapi ternyata itu semua hanya harap yang tak nyata.
Di tengah pergulatan untuk tetap menerima apa yang terjadi ini, beratnya situasi yang sedang kuhadapi membuatku tak bisa berpikir lagi. Aku merasa tak berguna dan entah di jalan persimpangan yang telah kuputuskan ini apalagi yang akan terjadi.
Aku tak tahu apa yang diinginkanNya dariku sehingga aku harus mengalami ini semua. Meski kusadari ini semua hanyalah konsekuensi dari apa yang telah kami jalani, tapi tetap saja rasa sakit yang selama ini kudapatkan pada keadaan ini telah membekas dalam di hatiku.
Pertemuan dan perpisahan, sakit karena harus memilih antara yang dicintai dan aturan institusi serta pribadi yang membawa kutuk serta berkat menjadikannya seperti itu. Apakah salah jika aku berusaha memberontak. Aku tau jika dia tak pernah memintanya karena ini merupakan anugerah yang kuasa. Dia istimewa dan aku mencoba untuk terus meyakininya meski keyakinan itu tak jarang runtuh karena duka yang harus kurasa.

Selasa, 7 Juli 2015 .23.08

Selamat malam bulan… Bahkan sampai saat ini pun tak ada sapa maupun kata yang bisa kubaca ataupun suara yang biasa menyapa. Kenapa seperti ini rasa hati ini. Aku terlalu bodoh mungkin karena mengharapkan bintang yang tak mungkin bisa kudapatkan.
Siapakah aku ini sampai berharap menggapai bintang yang menggantung di angkasa. Hanya seperti seekor katak yang merindukan bulan. Biarlah semua kenangan ini tersimpan atau mungkin hilang ditelan waktu. Biarkan terkubur di sudut kenangan. Bukankah begitu ?
Tak tahukan kau kalau aku merindukanmu… Sapa yang kukirimpun tak sempat kaubalas. Apakah aku harus marah… Haruskah aku cemburu. Siapa aku ? Kembali kutanyakan hal itu perihal diriku dan dirimu. Apakah benar aku menjadi salah satu orang yang berarti bagimu jika keramaian kota itu mampu membuatmu lupa akan adanya diriku di sini yang menunggumu… Setidaknya sekedar kabar darimu.
Tak ada satupun di dunia yang dapat menggantikan cinta ini. Kamu berada di tempat yang dapat kusinggahi namun aku tak bisa memilikimu. Meski air mataku terus mengalir aku akan tetap memandangmu".  Itulah kata yang sempat kukutip dari sebuah lagu.
Aku tak tahu kapan ini akan berakhir tapi satu hal yang aku tahu bahwa aku tak dapat menghentikannya. Entah kenapa lagu itu terus mengingatkanku pada kisah yang telah kita jalani sampai detik ini. Kisah yang kita tak pernah tahu akan bagaimana selanjutnya. Berat dan aku tak berharap ini semua terjadi seperti ini. Tapi siapa aku, selalu saja mengharapkan hal yang tak mungkin… Siapa aku yang begitu egois mengharapmu untuk tetap memohon perhatianmu dan selalu menemaniku seperti janji yang pernah kauucapkan dulu.
Waktu terus berlalu dan aku tetap tak bisa memejamkan mataku. Menunggumu… Kukirimkan angin untuk berbisik di telingamu bahwa aku merindukanmu tapi kau tak mendengarnya. Kukirim purnama yang kesepian agar ketika kau melihatnya kau tahu bahwa aku sendiri di sini menunggumu.
Tapi itupun tak membuatmu ingat padaku. Aku kacau dan memikirkanmu membuatku semakin kacau. Aku mencintaimu lebih dari yg kau tahu… Tapi apalah artinya rasa itu kini dibandingkan kehilanganmu atau mungkin kau yang meninggalkan aku.

Rabu, 03 Juni 2015

Karena CInta Mengajarkan Kita untuk Berlapang Dada

Lidahku sempat kelu karena hatiku mati rasa selama beberapa waktu. Leburan rasa kecewa, benci, marah, sedih pernah begitu pekat menyesaki dada. Akupun membencimu beberapa masa, sempat pula berusaha mengenyahkanmu dari dalam sana. Namun, semua usahaku nampaknya sia – sia. Kau masih teguh menunggu, berusaha keras mempertahankan hubungan berdua.
Akupun paham bahwa diam – diam kau ikut terluka dan berduka. Kau menyesali tingkah bodohmu yang membuat jalinan kita terkoyak. Kau mengutuki diri yang sempat dengan sengaja menggurat luka di dadaku. Namun kini, setelah sekian waktu jengah digilas rasa yang ada, hatiku mulai bisa terbuka celahnya.
Aku sadar, manusia tidak ada yang sempurna. Karena itulah, aku memilih untuk memaafkanmu.
Hatiku Pernah kau hancurkan sengan sengaja, membuat tatanan yang kita susun selama ini porak poranda. Tak kuingat kapan tepatnya ketika kau meluluhlantakkan pondasi masa depan yang kita susun berdua. Yang kuingat hanya mendadak hatiku tak mampu merasa. Tak kutemukan tanda – tanda cinta dan sayang yang selalu ada tiap kali kita bersama. Tak ada pula rasa hangat yang diam – diam menyusup masuk ketika mata kita saling berjumpa.
Setelah beberapa detik berusaha meresapi segalanya, barulah rasa kecewa, sedih, marah berbondong – bondong masuk tanpa permisi. Mereka menginjak – injak kenangan manis yang pernah ada, merobohkan menara kepercayaan yang selama ini menjadi kebanggaan, dan pada akhirnya memusnahkan harapan yang terjalin rapi bersama dengan impian.
Sedetik kemuadian tangisku pecah di udara. Tentu pada saat itu kau sudah tak ada. Aku tak sudi menangis di depanmu. Tak sudi menunjukkan wujudku yang sedang babak belur penuh luka di hadapanmu. Aku tak butuh dikasihani, dan aku bersikeras bahwa aku dapat mengatasi perasaan ini sendiri.
Ah, iya sekarang aku ingat, saat itu bulan ke 24 pada awal bulan, saat aku bertemu denganmu untuk kali pertamanya setelah kau menyelesaikan orientasi kepegawaianmu. Ketika aku mengetahui sesuatu yang menyakitkanku.
Sungguh aku berusaha memaafkanmu, namun masih agak berat. Aku ingin kau tahu bahwa pengkhianatan dan kebohongan sangat tajam membaret luka di hati hingga berbekas. Bagaimana tidak kau tahu rasa sakit itu menghujamku, membuatku sesak tak percaya kau begitu. Dan kau membuatku ragu denganmu dalam hal apapun. Berkali – kali ku dengar kau berucap, bahwa hubungan tanpa kepercayaan itu sia- sia dan takan ada gunanya, namun pada kenyataannya kau yang membuatku was – was terhadap cintamu. Aku berusaha diam untuk mencerna dan merasakan pil pahit itu butir demi butir untuk mencari penawarnya.
Namun kemudian aku menyadari, kamu juga porak poranda di dalam sana. Hatimu juga terkoyak sama seperti punyaku. Bukan hanya aku yang terluka, kaupun tengah berduka.
Karena manusia memang tak ada yang sempurna, aku menyadari bahwa aku memang harus memaafkan kealpaan yang pernah kau cipta. Butuh waktu lama memang untukku meresapi dan membuka hati kembali, bersikap seperti dahulu saat tak terjadi apa – apa pada hubungan kita. Aku kemudian baru memahami bahwa penyesalan yang kau bawa sudah cukup menyiksa. Kau pun sama sepertiku, tengah terpuruk dan tak berhenti meratap. Beban yang kau panggul tentu lebih berat dan penyesalan yang kau rasakan sudah cukup menyesakkan. Aku kini paham, kau tengah menghukum diri sendiri.
Aku bukan dewa yang bisa bertitah, sama sepertimu aku juga manusia. Dan tentunya aku tak berhak menghukum demi membuatmu jera. Hal ini juga menyadarkanku bahwa tak ada manusia sempurna yang tak memiliki cela. Aku harus menerima dan memaafkan kesalahan yang pernah kau torehkan. Lagipula aku meyakini jika semua manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Penyesalan yang kau rasa sudah merupakan penghukuman yang layak kau dapatkan. Oleh karena itulah aku melunakkan hati, demi memaafkanmu dan memberi kesempatan satu kali lagi.
Berkat pengalaman yang kita jalani, aku sadari hubungan kita makin dewasa. Aku dan kamu belajar saling membuka hati dan melapangkan dada. Rasa yang ada di dalam hati ini tak bisa berdusta. Ia masih menunjukkan getarannya tiap kali wajahmu melintas di rongga kepala. Penyesalan dan usaha tanpa henti yang kau tunjukkan berhasil membuka hatiku sedikit demi sedikit. Kembali menyuburkan pendar cinta yang tersemai rapi di dalam sana.
Hubungan kita memang layak diperjuangkan, untuk itulah aku memilih untuk memaafkan. Aku tahu, kita sudah berada di level hubungan yang lebih dewasa. Aku belajar banyak dari kesalahan yang pernah ada. Pun masih ada sisa impian dan harapan yang menunggu untuk kita tuntaskan. Takkan kubiarkan kealpaan yang ada membuat kita berhenti berjuang.

Kini, maukah kau berjanji untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan tak mengulangi kesalahan yang sama?

Selasa, 26 Mei 2015

Two Years Besides You My SuperArd

Untuk waktu yang tidak sebentar, kita belajar saling mengenal. Aku menghafalkan senyummu yang selalu pecah dengan ciri khasmu yang lucu, hangat jarimu saat kita saling bergandeng tangan. Tanpa sadar kebiasaan - kebiasaan kecil dari aku dan kamu juga menjadi bagian dari kita.



Kita telah terbiasa bersama, menghadapi waktu berdua. Mungkin kau akan tersenyum geli jika mendengarku mengakui : kadang aku bertanya - tanya kenapa kau masih ( mau ) ada disini? Apa yang aku miliki sampai kau rela bertahan hingga sekarang? Karena sungguh, kadang aku masih merasa belum punya apa - apa. Kehadiranmulah yang menggenapiku, melengkapiku hingga aku menjadi sesuatu yang baru. Terkadang kita memang tak selalu sejalan. Ada saat dimana kita saling mengalahkan.


Terimakasih, karena kau telah mau bersanding dengan gadis sebiasa - biasa aku sampai saat ini.


Tak bisa dipungkiri, perjalanan kita lamanya memang tak lepas dari silang pikir dan kata. Jalanan yang kita lalui memang tak semulus jalan tol, kita banyak menemukan kerikil tajam serta jalanan berliku. Namun toh semuanya sanggup kita hadapai bersama, meski kadang tertatih dan dengan satu - dua nafas kelelahan. Aku masih ingat kala kita memang sedang tidak bisa berpikir jernih dan membuat suasana mengeruh. Ketika aku dan kamu memang sedang tidak bisa berkompromi dan bekerjasama.


Bahkan, kita juga pernah terbelit tali cemburu yang membuat kita buta sementara. Membuat kita sejenak lupa bahwa ada cinta yang dalam di sana. Yang ada hanyalah kebencian dan api amarah yang siap melumat habis kita berdua. Aku membentak, kau meradang. Aku menangis, kau terdiam. Saking kerasnya kepala, kita pernah memutuskan untuk sejenak tak saling berjumpa. Demi meredam kata - kata beraroma kebencian yang akan terlontarkan. Demi menjaga supaya hati masing - masing tetap utuh bentuknya.


Kita selalu menunggu hingga semuanya tenang. Mendinginkan dua kepala demi kebaikan berdua. Saat itulah kita baru akan kembali bertemu dan berbicara. Menyusun kembali jalinan yang sempat koyak bentuknya. Tiap kali pertikaian kita usai, kau dan aku akan saling menyadari bahwa kita sebenarnya saling mengisi. Bagaimana bisa aku lama - lama tak memandang wajahmu atau tak mendengar derai tawamu? Hati ini selalu gundah luar biasa. Ya, hatiku memang tak lagi milikku sepenuhnya. Ada namamu juga tertera di sana. Wajar jika kemudian dia akan meraung tanda protes, meminta kehadiranmu secepatnya. 


Ah, konyol memang. Mengingat lagi bagaimana ketika kemarin kita saling membentak. Kemudian esok hari memutuskan untuk tidak saling menatap muka. Namun, di hari lusa kita sudah saling berbagi dekap karena tak betah lama - lama saling menyimpan marah.


Kupikir hatimu pun demikian, tidak tahan ingin segera bertemu dengan pemilik yang satunya, yaitu aku. Disaat - saat yang paling sulit pun kau tetap setia disana, tak pernah sejengkalpun mundur atau mencari tambatan lainnya.


Memang di balik pertengkaran yang terjadi, aku selalu memendam kagum padamu, pada kita. Memori lama kembali berjejalan menunggu untuk kembali dicerna kepalaku. Bagaimana selama ini kita bisa saling menggenapkan. Saat aku berada di titik terendah, kaulah yang ada di sana siap menjadi pelontarku ke angkasa. Kau pula yang bertahan, sedia berdiri di baris terdepan.



Kau tak pernah mundur ketika aku dan segala tingkah ajaibku menuntut pengertian dengan kadar yang lebih dari biasanya. Kau tak mencoba mencari gadis yang lebih sempurna yang tentu saja ada banyak jumlahnya di luaran sana. Kau memilihku, memilih merenda hubungan dengan gadis yang sangat biasa. Seorang gadis yang sedang sibuk terkurung dalam penjara pendidikan demi sebuah impian. Seorang gadis yang tak selalu ada untukmu setiap waktu dan penuh dengan keterbatasan.


Ah, aku memang benar - benar mengagumimu yang memiliki rasa setia yang tak ada habisnya. Setia membimbingku hingga sekarang aku menjadi makin dewasa. Setia memahamiku dengan segala tingkah polahku. Terimakasih kau selalu ada selama 17.520 jam untuk memperhatikanku walau hanya melalui telepon dan pesan singkat karena kita tak selamanya dapat bertatap. Terimakasih sudah mempercayakan hatimu kepadaku. Tentu kita tidak boleh menyerah dan berhenti berusaha. Namun, apa salahnya untuk yakin bahwa ada tempat yang disiapkan masa depan bagi kita.


Tak pernah terlintas di kepalaku bahwa kita bisa bertahan hingga sekian lama. Masih tak percaya ketika perahu yang kita dayung ternyata bisa berlayar sejauh ini. Walaupun sesekali terhantam badai, kita toh masih utuh dengan layar yang menjulang. Siap menantang badai yang kapan saja akan kembali datang.


Melalui hubungan kita, aku mendewasa, aku kian tegar. Walaupun tentu umur pacaran yang baru seumur jagung, tidak boleh membuat kita sombong. Kita harus kerap mengucap doa, semoga kita memang ditakdirkan bersama.

Sekali lagi kuucapkan padamu, " Terimakasih telah setia sekian lamanya. Semoga masa depan menyediakan untuk kita suatu tempat bersama. "


-26 MEI 2015 -


ard & rose

Minggu, 22 Maret 2015

Bertahanlah cinta,seperti setia yang tak pernah lelah

Aku tak mengerti entah apa yang terkadang membuat seseorang berubah. Entah keadaan atau lingkungan? Aku juga tak paham apa yang membuat seseorang kadang tak berpikir dengan logika, akal sehat lebih tepatnya. Memang kekhawatiran kita tentang sesuatu di masa yang akan datang terkadang memang nyata terjadi.
Cinta... Memang cinta terkadang membuat seseorang "mungkin" bisa berubah. Berubah menjadi lunak atau bahkan membuat seseorang menjadi keras seperti batu. Terkadang juga cinta hanya manis di bibir saja, namun pada kenyataannya, pahit di hati. Entah terlihat atau tidak, terkadang cinta membuat suatu kemustahilan menjadi nyata, memicu benci, mengundang dendam, dan mendatangkan musuh. Itulah anehnya cinta! Dia datang tanpa diundang dan pergipun sesuka hatinya, sehingga menjadikan hati yang utuh menjadi pecah, remuk dan hancur berkeping-keping!
Maka dari itu, pengobat cinta adalah kesetiaan. Dia ada untuk merubah semuanya hingga tak ada lagi benci, dendam, bahkan airmata yang keluar karena cinta.
Untuk "Lelaki"ku, aku..disini setia untuk kamu. Aku tak pernah menginginkan cinta yang seperti itu, menyerah lalu kalah hanya karena keadaan. Aku ada untuk mendukung kamu.
Ingat,, dulu kita pernah sama-sama melawan keadan seperti ini. Jatuh dan terpuruk lebih tepatnya. Tapi sekarang kau lihat bukan?  aku masih disini dengan hati, cinta dan perasaan yang sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Masih tetap menemani kamu hingga saat ini. Ini bukti, bukti bahwa kesetiaan menjaga segalanya. Menjaga hatiku untuk kamu dan hatimu untuk aku. Kamu "lelaki"ku kuatlah, jangan mau mengalah hanya  karna keadaan yang seperti ini. Kamu punya Tuhan yang selalu ada untuk kamu. Apa daya "manusia dzalim" dibanding dengan kuasaNya? Kosong.....
Tak ada yang bisa manusia perbuat jika Tuhan sudah berkehendak!
"Lelaki"ku, kamu punya Tuhan, orangtua super hebat, dan aku. Aku tak akan pernah meu mengalah dengan keadaan. Sebisa mungkin aku berjuang disini untuk orang tuaku dan kamu calon teman hidupku.

Jumat, 29 Agustus 2014

Merindumu....

Aku yakin dan percaya,setiap keindahan berawal dari perjuangan, seperti kupu - kupu ia harus menjadi kepompong untuk bisa menjadi kupu  kupu yang indah.
Begitu juga dengan kehidupan ini perlu banyak,pengorbanan,perjuangan,dan kesungguhan untuk menjadi sesuatu yang indah dan membanggakan.
Setiap nafas yang kuhela,setiap hari dan kehidupan yang kujalani semua demi mereka yang kusayangi,yang tak pernah henti mendukung dan menyemangatiku. Meski peran mereka tak tampak dari depan,namun sesungguhnya merekalah sutradara dari seorang pemeran utama dikehidupan ini.
Hingga tak bisa digambarkan,betapa besar pengorbanan mereka untukku. Setiap doa yang terpanjat darinya, semua hanya untuk kebahagiaanku,. Demi melihat aku bahagia apapun mereka lakukan tak peduli sangat keras hidup ini menghalanginya.
Walaupun merintih dalam malam, bersujud dan bersimpuh di hadapan Nya, itu semua demi buah hati kebanggaan mereka. Bukan balas budi yang mereka cari, hanya kasih sayang dan kebahagiaan yang mereka butuhkan,di masa nanti ketika tulang tak lagi sanggup menopang tubuh mereka.
Ibu, dalam kesendirianku jauh darimu, aku ingin melihatmu bangga kepadaku. Bapak, dalam kesepianku tanpamu disisiku,aku ingin melihatmu tersenyum atas prestasiku. Tak henti - hentinya mereka membanggakanku dihadapan semua orang, ya mereka berhasil membimbingku hingga kini aku bahagia dapat membaanggakan mereka juga.
Tuhan,jaga mereka yang sangat saya sayangi,lindungi mereka seperti doa mereka kepadaMu untuk melindungiku disini. Jangan biarkan aku membuat muka bahagia mereka berubah menjadi raut muka penuh kecewa terhadapku. Betapa keras,dan sulit hidup yang kujalani, takkan pernah aku lelah dan menyerah. Demi bapak,ibuk disana. Ya...aku bahagia disini,walau terkadang aku rindu dipelukmu,aku rindu berkumpul bersama mereka. Menangis dalam tawa adalah kamoflase yang membuat mereka tak khawatir terhadapku. Betapa setiap masalah yang kuhadapi kini tidak denganmu ku menyelesaikannya, Ketika ku butuh pelukan hangatmu ketika aku sedang sangat terjatu dan merasa sendiri,memandang fotomu membuatku merasa nyaman. Tak ingin ku membagi sedihku denganmu,aku tak mau kau merasa sedih juga.Aku mencintaimu selamanya Bapak,Ibu

Senin, 04 Agustus 2014

TERUNTUKMU.....

Ketidakpastian hanyalah keyakinan yang tidak sepenuhnya.
Jarak hanyalah ruang untuk merindu, orang yang setia akan menghormati keberadaannya.
Jika ada hati yang dipilih, maka seharusnya ada sikap yang diambil.
Apa aku harus percaya kau? Kau bahkan tak yakin pada diri sendiri.
Baik adalah cukup bagiku. Kau tak perlu jadi yang terbaik untuk kucintai.
Kupikir tidak ada bahagia yang bisa dicapai dengan keterpaksaan.
Terkadang manusia tertipu. Dilihatnya pintu harapan sebagai penghalang.
Acapkali juga manusia merasa aneh pada sesuatu yang nyata.
Seperti kamu.
Kamu adalah kenyataan yang patut kumiliki. Usahlah mencariku di mimpi, aku sudah nyata untukmu, aku ada bagi hidupmu
Teruntukmu,
Atas segala masalah yang datang, seberapa berat hal-hal itu, sesungguhnya itu akan menegaskan banyak hal padamu, terutama tentang sebuah makna di balik aku tetap di sini.  Oleh karenanya, jangan kamu merasa hina karena aku mencintaimu, atau aku bisa menjadi sedih dan menangisinya! Memang ada banyak yang lebih hebat daripada kamu, tapi lebih hebat bila aku tetap mencintaimu. 
Percayalah! Biarkan aku menangis untuk tersenyum! Inipun karena cinta. Aku yakin, aku tidak menjadi bodoh karena itu. Tetaplah di sini, dan jangan menghukum dirimu karena kedukaanku! Aku tidak ingin bolos dari derita. Aku ingin benar-benar melewatinya dengan nilai yang memuaskan. Maka tidak akan kubiarkan siapapun mencuri kesedihanku dan menggantinya dengan kesia-siaan! Aku ingin memenangkanmu karena pernah meneteskan airmata. Seperti itu kesanggupanku. Demikian pula, aku tidak akan menyudahi cinta karena ketidakpuasaan sesaat. Aku akan menyimak hidup sampai kita benar-benar tiba di hari senang.
 Memang, ada banyak yang bertahta daripada kedudukanmu , pula berharta daripada isi sakumu. Tetapi itu semua adalah yang aku kenal sebagai aneka dari ujian. Melatih jiwaku untuk dapat mengangkat keberuntungan. Kekasih, mempertahankanmu adalah caraku membanggakan anugerah Tuhan. Kamu hanya begitu kecil di mata dunia, yang terlalu jelas dilihat Tuhan, walau kusimpan di dalam hati.

.