Selasa, 07 Juli 2015

Keluhku Dalam Diam

Senin, 6 Juli 2015. 03.49

Sampai dini hari ini aku tetap tak bisa memejamkan mataku. Pikiranku masih melayang memikirkan dia yang sedang menikmati waktunya di keramaian kota. Ada rasa rindu yang menggebu di hati ini berharap ada sebaris kata atau juga serangkai nada suara yang mengantar tidurku malam tadi, tapi ternyata itu semua hanya harap yang tak nyata.
Di tengah pergulatan untuk tetap menerima apa yang terjadi ini, beratnya situasi yang sedang kuhadapi membuatku tak bisa berpikir lagi. Aku merasa tak berguna dan entah di jalan persimpangan yang telah kuputuskan ini apalagi yang akan terjadi.
Aku tak tahu apa yang diinginkanNya dariku sehingga aku harus mengalami ini semua. Meski kusadari ini semua hanyalah konsekuensi dari apa yang telah kami jalani, tapi tetap saja rasa sakit yang selama ini kudapatkan pada keadaan ini telah membekas dalam di hatiku.
Pertemuan dan perpisahan, sakit karena harus memilih antara yang dicintai dan aturan institusi serta pribadi yang membawa kutuk serta berkat menjadikannya seperti itu. Apakah salah jika aku berusaha memberontak. Aku tau jika dia tak pernah memintanya karena ini merupakan anugerah yang kuasa. Dia istimewa dan aku mencoba untuk terus meyakininya meski keyakinan itu tak jarang runtuh karena duka yang harus kurasa.

Selasa, 7 Juli 2015 .23.08

Selamat malam bulan… Bahkan sampai saat ini pun tak ada sapa maupun kata yang bisa kubaca ataupun suara yang biasa menyapa. Kenapa seperti ini rasa hati ini. Aku terlalu bodoh mungkin karena mengharapkan bintang yang tak mungkin bisa kudapatkan.
Siapakah aku ini sampai berharap menggapai bintang yang menggantung di angkasa. Hanya seperti seekor katak yang merindukan bulan. Biarlah semua kenangan ini tersimpan atau mungkin hilang ditelan waktu. Biarkan terkubur di sudut kenangan. Bukankah begitu ?
Tak tahukan kau kalau aku merindukanmu… Sapa yang kukirimpun tak sempat kaubalas. Apakah aku harus marah… Haruskah aku cemburu. Siapa aku ? Kembali kutanyakan hal itu perihal diriku dan dirimu. Apakah benar aku menjadi salah satu orang yang berarti bagimu jika keramaian kota itu mampu membuatmu lupa akan adanya diriku di sini yang menunggumu… Setidaknya sekedar kabar darimu.
Tak ada satupun di dunia yang dapat menggantikan cinta ini. Kamu berada di tempat yang dapat kusinggahi namun aku tak bisa memilikimu. Meski air mataku terus mengalir aku akan tetap memandangmu".  Itulah kata yang sempat kukutip dari sebuah lagu.
Aku tak tahu kapan ini akan berakhir tapi satu hal yang aku tahu bahwa aku tak dapat menghentikannya. Entah kenapa lagu itu terus mengingatkanku pada kisah yang telah kita jalani sampai detik ini. Kisah yang kita tak pernah tahu akan bagaimana selanjutnya. Berat dan aku tak berharap ini semua terjadi seperti ini. Tapi siapa aku, selalu saja mengharapkan hal yang tak mungkin… Siapa aku yang begitu egois mengharapmu untuk tetap memohon perhatianmu dan selalu menemaniku seperti janji yang pernah kauucapkan dulu.
Waktu terus berlalu dan aku tetap tak bisa memejamkan mataku. Menunggumu… Kukirimkan angin untuk berbisik di telingamu bahwa aku merindukanmu tapi kau tak mendengarnya. Kukirim purnama yang kesepian agar ketika kau melihatnya kau tahu bahwa aku sendiri di sini menunggumu.
Tapi itupun tak membuatmu ingat padaku. Aku kacau dan memikirkanmu membuatku semakin kacau. Aku mencintaimu lebih dari yg kau tahu… Tapi apalah artinya rasa itu kini dibandingkan kehilanganmu atau mungkin kau yang meninggalkan aku.

Rabu, 03 Juni 2015

Karena CInta Mengajarkan Kita untuk Berlapang Dada

Lidahku sempat kelu karena hatiku mati rasa selama beberapa waktu. Leburan rasa kecewa, benci, marah, sedih pernah begitu pekat menyesaki dada. Akupun membencimu beberapa masa, sempat pula berusaha mengenyahkanmu dari dalam sana. Namun, semua usahaku nampaknya sia – sia. Kau masih teguh menunggu, berusaha keras mempertahankan hubungan berdua.
Akupun paham bahwa diam – diam kau ikut terluka dan berduka. Kau menyesali tingkah bodohmu yang membuat jalinan kita terkoyak. Kau mengutuki diri yang sempat dengan sengaja menggurat luka di dadaku. Namun kini, setelah sekian waktu jengah digilas rasa yang ada, hatiku mulai bisa terbuka celahnya.
Aku sadar, manusia tidak ada yang sempurna. Karena itulah, aku memilih untuk memaafkanmu.
Hatiku Pernah kau hancurkan sengan sengaja, membuat tatanan yang kita susun selama ini porak poranda. Tak kuingat kapan tepatnya ketika kau meluluhlantakkan pondasi masa depan yang kita susun berdua. Yang kuingat hanya mendadak hatiku tak mampu merasa. Tak kutemukan tanda – tanda cinta dan sayang yang selalu ada tiap kali kita bersama. Tak ada pula rasa hangat yang diam – diam menyusup masuk ketika mata kita saling berjumpa.
Setelah beberapa detik berusaha meresapi segalanya, barulah rasa kecewa, sedih, marah berbondong – bondong masuk tanpa permisi. Mereka menginjak – injak kenangan manis yang pernah ada, merobohkan menara kepercayaan yang selama ini menjadi kebanggaan, dan pada akhirnya memusnahkan harapan yang terjalin rapi bersama dengan impian.
Sedetik kemuadian tangisku pecah di udara. Tentu pada saat itu kau sudah tak ada. Aku tak sudi menangis di depanmu. Tak sudi menunjukkan wujudku yang sedang babak belur penuh luka di hadapanmu. Aku tak butuh dikasihani, dan aku bersikeras bahwa aku dapat mengatasi perasaan ini sendiri.
Ah, iya sekarang aku ingat, saat itu bulan ke 24 pada awal bulan, saat aku bertemu denganmu untuk kali pertamanya setelah kau menyelesaikan orientasi kepegawaianmu. Ketika aku mengetahui sesuatu yang menyakitkanku.
Sungguh aku berusaha memaafkanmu, namun masih agak berat. Aku ingin kau tahu bahwa pengkhianatan dan kebohongan sangat tajam membaret luka di hati hingga berbekas. Bagaimana tidak kau tahu rasa sakit itu menghujamku, membuatku sesak tak percaya kau begitu. Dan kau membuatku ragu denganmu dalam hal apapun. Berkali – kali ku dengar kau berucap, bahwa hubungan tanpa kepercayaan itu sia- sia dan takan ada gunanya, namun pada kenyataannya kau yang membuatku was – was terhadap cintamu. Aku berusaha diam untuk mencerna dan merasakan pil pahit itu butir demi butir untuk mencari penawarnya.
Namun kemudian aku menyadari, kamu juga porak poranda di dalam sana. Hatimu juga terkoyak sama seperti punyaku. Bukan hanya aku yang terluka, kaupun tengah berduka.
Karena manusia memang tak ada yang sempurna, aku menyadari bahwa aku memang harus memaafkan kealpaan yang pernah kau cipta. Butuh waktu lama memang untukku meresapi dan membuka hati kembali, bersikap seperti dahulu saat tak terjadi apa – apa pada hubungan kita. Aku kemudian baru memahami bahwa penyesalan yang kau bawa sudah cukup menyiksa. Kau pun sama sepertiku, tengah terpuruk dan tak berhenti meratap. Beban yang kau panggul tentu lebih berat dan penyesalan yang kau rasakan sudah cukup menyesakkan. Aku kini paham, kau tengah menghukum diri sendiri.
Aku bukan dewa yang bisa bertitah, sama sepertimu aku juga manusia. Dan tentunya aku tak berhak menghukum demi membuatmu jera. Hal ini juga menyadarkanku bahwa tak ada manusia sempurna yang tak memiliki cela. Aku harus menerima dan memaafkan kesalahan yang pernah kau torehkan. Lagipula aku meyakini jika semua manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Penyesalan yang kau rasa sudah merupakan penghukuman yang layak kau dapatkan. Oleh karena itulah aku melunakkan hati, demi memaafkanmu dan memberi kesempatan satu kali lagi.
Berkat pengalaman yang kita jalani, aku sadari hubungan kita makin dewasa. Aku dan kamu belajar saling membuka hati dan melapangkan dada. Rasa yang ada di dalam hati ini tak bisa berdusta. Ia masih menunjukkan getarannya tiap kali wajahmu melintas di rongga kepala. Penyesalan dan usaha tanpa henti yang kau tunjukkan berhasil membuka hatiku sedikit demi sedikit. Kembali menyuburkan pendar cinta yang tersemai rapi di dalam sana.
Hubungan kita memang layak diperjuangkan, untuk itulah aku memilih untuk memaafkan. Aku tahu, kita sudah berada di level hubungan yang lebih dewasa. Aku belajar banyak dari kesalahan yang pernah ada. Pun masih ada sisa impian dan harapan yang menunggu untuk kita tuntaskan. Takkan kubiarkan kealpaan yang ada membuat kita berhenti berjuang.

Kini, maukah kau berjanji untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan tak mengulangi kesalahan yang sama?

Selasa, 26 Mei 2015

Two Years Besides You My SuperArd

Untuk waktu yang tidak sebentar, kita belajar saling mengenal. Aku menghafalkan senyummu yang selalu pecah dengan ciri khasmu yang lucu, hangat jarimu saat kita saling bergandeng tangan. Tanpa sadar kebiasaan - kebiasaan kecil dari aku dan kamu juga menjadi bagian dari kita.



Kita telah terbiasa bersama, menghadapi waktu berdua. Mungkin kau akan tersenyum geli jika mendengarku mengakui : kadang aku bertanya - tanya kenapa kau masih ( mau ) ada disini? Apa yang aku miliki sampai kau rela bertahan hingga sekarang? Karena sungguh, kadang aku masih merasa belum punya apa - apa. Kehadiranmulah yang menggenapiku, melengkapiku hingga aku menjadi sesuatu yang baru. Terkadang kita memang tak selalu sejalan. Ada saat dimana kita saling mengalahkan.


Terimakasih, karena kau telah mau bersanding dengan gadis sebiasa - biasa aku sampai saat ini.


Tak bisa dipungkiri, perjalanan kita lamanya memang tak lepas dari silang pikir dan kata. Jalanan yang kita lalui memang tak semulus jalan tol, kita banyak menemukan kerikil tajam serta jalanan berliku. Namun toh semuanya sanggup kita hadapai bersama, meski kadang tertatih dan dengan satu - dua nafas kelelahan. Aku masih ingat kala kita memang sedang tidak bisa berpikir jernih dan membuat suasana mengeruh. Ketika aku dan kamu memang sedang tidak bisa berkompromi dan bekerjasama.


Bahkan, kita juga pernah terbelit tali cemburu yang membuat kita buta sementara. Membuat kita sejenak lupa bahwa ada cinta yang dalam di sana. Yang ada hanyalah kebencian dan api amarah yang siap melumat habis kita berdua. Aku membentak, kau meradang. Aku menangis, kau terdiam. Saking kerasnya kepala, kita pernah memutuskan untuk sejenak tak saling berjumpa. Demi meredam kata - kata beraroma kebencian yang akan terlontarkan. Demi menjaga supaya hati masing - masing tetap utuh bentuknya.


Kita selalu menunggu hingga semuanya tenang. Mendinginkan dua kepala demi kebaikan berdua. Saat itulah kita baru akan kembali bertemu dan berbicara. Menyusun kembali jalinan yang sempat koyak bentuknya. Tiap kali pertikaian kita usai, kau dan aku akan saling menyadari bahwa kita sebenarnya saling mengisi. Bagaimana bisa aku lama - lama tak memandang wajahmu atau tak mendengar derai tawamu? Hati ini selalu gundah luar biasa. Ya, hatiku memang tak lagi milikku sepenuhnya. Ada namamu juga tertera di sana. Wajar jika kemudian dia akan meraung tanda protes, meminta kehadiranmu secepatnya. 


Ah, konyol memang. Mengingat lagi bagaimana ketika kemarin kita saling membentak. Kemudian esok hari memutuskan untuk tidak saling menatap muka. Namun, di hari lusa kita sudah saling berbagi dekap karena tak betah lama - lama saling menyimpan marah.


Kupikir hatimu pun demikian, tidak tahan ingin segera bertemu dengan pemilik yang satunya, yaitu aku. Disaat - saat yang paling sulit pun kau tetap setia disana, tak pernah sejengkalpun mundur atau mencari tambatan lainnya.


Memang di balik pertengkaran yang terjadi, aku selalu memendam kagum padamu, pada kita. Memori lama kembali berjejalan menunggu untuk kembali dicerna kepalaku. Bagaimana selama ini kita bisa saling menggenapkan. Saat aku berada di titik terendah, kaulah yang ada di sana siap menjadi pelontarku ke angkasa. Kau pula yang bertahan, sedia berdiri di baris terdepan.



Kau tak pernah mundur ketika aku dan segala tingkah ajaibku menuntut pengertian dengan kadar yang lebih dari biasanya. Kau tak mencoba mencari gadis yang lebih sempurna yang tentu saja ada banyak jumlahnya di luaran sana. Kau memilihku, memilih merenda hubungan dengan gadis yang sangat biasa. Seorang gadis yang sedang sibuk terkurung dalam penjara pendidikan demi sebuah impian. Seorang gadis yang tak selalu ada untukmu setiap waktu dan penuh dengan keterbatasan.


Ah, aku memang benar - benar mengagumimu yang memiliki rasa setia yang tak ada habisnya. Setia membimbingku hingga sekarang aku menjadi makin dewasa. Setia memahamiku dengan segala tingkah polahku. Terimakasih kau selalu ada selama 17.520 jam untuk memperhatikanku walau hanya melalui telepon dan pesan singkat karena kita tak selamanya dapat bertatap. Terimakasih sudah mempercayakan hatimu kepadaku. Tentu kita tidak boleh menyerah dan berhenti berusaha. Namun, apa salahnya untuk yakin bahwa ada tempat yang disiapkan masa depan bagi kita.


Tak pernah terlintas di kepalaku bahwa kita bisa bertahan hingga sekian lama. Masih tak percaya ketika perahu yang kita dayung ternyata bisa berlayar sejauh ini. Walaupun sesekali terhantam badai, kita toh masih utuh dengan layar yang menjulang. Siap menantang badai yang kapan saja akan kembali datang.


Melalui hubungan kita, aku mendewasa, aku kian tegar. Walaupun tentu umur pacaran yang baru seumur jagung, tidak boleh membuat kita sombong. Kita harus kerap mengucap doa, semoga kita memang ditakdirkan bersama.

Sekali lagi kuucapkan padamu, " Terimakasih telah setia sekian lamanya. Semoga masa depan menyediakan untuk kita suatu tempat bersama. "


-26 MEI 2015 -


ard & rose

Minggu, 22 Maret 2015

Bertahanlah cinta,seperti setia yang tak pernah lelah

Aku tak mengerti entah apa yang terkadang membuat seseorang berubah. Entah keadaan atau lingkungan? Aku juga tak paham apa yang membuat seseorang kadang tak berpikir dengan logika, akal sehat lebih tepatnya. Memang kekhawatiran kita tentang sesuatu di masa yang akan datang terkadang memang nyata terjadi.
Cinta... Memang cinta terkadang membuat seseorang "mungkin" bisa berubah. Berubah menjadi lunak atau bahkan membuat seseorang menjadi keras seperti batu. Terkadang juga cinta hanya manis di bibir saja, namun pada kenyataannya, pahit di hati. Entah terlihat atau tidak, terkadang cinta membuat suatu kemustahilan menjadi nyata, memicu benci, mengundang dendam, dan mendatangkan musuh. Itulah anehnya cinta! Dia datang tanpa diundang dan pergipun sesuka hatinya, sehingga menjadikan hati yang utuh menjadi pecah, remuk dan hancur berkeping-keping!
Maka dari itu, pengobat cinta adalah kesetiaan. Dia ada untuk merubah semuanya hingga tak ada lagi benci, dendam, bahkan airmata yang keluar karena cinta.
Untuk "Lelaki"ku, aku..disini setia untuk kamu. Aku tak pernah menginginkan cinta yang seperti itu, menyerah lalu kalah hanya karena keadaan. Aku ada untuk mendukung kamu.
Ingat,, dulu kita pernah sama-sama melawan keadan seperti ini. Jatuh dan terpuruk lebih tepatnya. Tapi sekarang kau lihat bukan?  aku masih disini dengan hati, cinta dan perasaan yang sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Masih tetap menemani kamu hingga saat ini. Ini bukti, bukti bahwa kesetiaan menjaga segalanya. Menjaga hatiku untuk kamu dan hatimu untuk aku. Kamu "lelaki"ku kuatlah, jangan mau mengalah hanya  karna keadaan yang seperti ini. Kamu punya Tuhan yang selalu ada untuk kamu. Apa daya "manusia dzalim" dibanding dengan kuasaNya? Kosong.....
Tak ada yang bisa manusia perbuat jika Tuhan sudah berkehendak!
"Lelaki"ku, kamu punya Tuhan, orangtua super hebat, dan aku. Aku tak akan pernah meu mengalah dengan keadaan. Sebisa mungkin aku berjuang disini untuk orang tuaku dan kamu calon teman hidupku.