Selasa, 26 Mei 2015

Two Years Besides You My SuperArd

Untuk waktu yang tidak sebentar, kita belajar saling mengenal. Aku menghafalkan senyummu yang selalu pecah dengan ciri khasmu yang lucu, hangat jarimu saat kita saling bergandeng tangan. Tanpa sadar kebiasaan - kebiasaan kecil dari aku dan kamu juga menjadi bagian dari kita.



Kita telah terbiasa bersama, menghadapi waktu berdua. Mungkin kau akan tersenyum geli jika mendengarku mengakui : kadang aku bertanya - tanya kenapa kau masih ( mau ) ada disini? Apa yang aku miliki sampai kau rela bertahan hingga sekarang? Karena sungguh, kadang aku masih merasa belum punya apa - apa. Kehadiranmulah yang menggenapiku, melengkapiku hingga aku menjadi sesuatu yang baru. Terkadang kita memang tak selalu sejalan. Ada saat dimana kita saling mengalahkan.


Terimakasih, karena kau telah mau bersanding dengan gadis sebiasa - biasa aku sampai saat ini.


Tak bisa dipungkiri, perjalanan kita lamanya memang tak lepas dari silang pikir dan kata. Jalanan yang kita lalui memang tak semulus jalan tol, kita banyak menemukan kerikil tajam serta jalanan berliku. Namun toh semuanya sanggup kita hadapai bersama, meski kadang tertatih dan dengan satu - dua nafas kelelahan. Aku masih ingat kala kita memang sedang tidak bisa berpikir jernih dan membuat suasana mengeruh. Ketika aku dan kamu memang sedang tidak bisa berkompromi dan bekerjasama.


Bahkan, kita juga pernah terbelit tali cemburu yang membuat kita buta sementara. Membuat kita sejenak lupa bahwa ada cinta yang dalam di sana. Yang ada hanyalah kebencian dan api amarah yang siap melumat habis kita berdua. Aku membentak, kau meradang. Aku menangis, kau terdiam. Saking kerasnya kepala, kita pernah memutuskan untuk sejenak tak saling berjumpa. Demi meredam kata - kata beraroma kebencian yang akan terlontarkan. Demi menjaga supaya hati masing - masing tetap utuh bentuknya.


Kita selalu menunggu hingga semuanya tenang. Mendinginkan dua kepala demi kebaikan berdua. Saat itulah kita baru akan kembali bertemu dan berbicara. Menyusun kembali jalinan yang sempat koyak bentuknya. Tiap kali pertikaian kita usai, kau dan aku akan saling menyadari bahwa kita sebenarnya saling mengisi. Bagaimana bisa aku lama - lama tak memandang wajahmu atau tak mendengar derai tawamu? Hati ini selalu gundah luar biasa. Ya, hatiku memang tak lagi milikku sepenuhnya. Ada namamu juga tertera di sana. Wajar jika kemudian dia akan meraung tanda protes, meminta kehadiranmu secepatnya. 


Ah, konyol memang. Mengingat lagi bagaimana ketika kemarin kita saling membentak. Kemudian esok hari memutuskan untuk tidak saling menatap muka. Namun, di hari lusa kita sudah saling berbagi dekap karena tak betah lama - lama saling menyimpan marah.


Kupikir hatimu pun demikian, tidak tahan ingin segera bertemu dengan pemilik yang satunya, yaitu aku. Disaat - saat yang paling sulit pun kau tetap setia disana, tak pernah sejengkalpun mundur atau mencari tambatan lainnya.


Memang di balik pertengkaran yang terjadi, aku selalu memendam kagum padamu, pada kita. Memori lama kembali berjejalan menunggu untuk kembali dicerna kepalaku. Bagaimana selama ini kita bisa saling menggenapkan. Saat aku berada di titik terendah, kaulah yang ada di sana siap menjadi pelontarku ke angkasa. Kau pula yang bertahan, sedia berdiri di baris terdepan.



Kau tak pernah mundur ketika aku dan segala tingkah ajaibku menuntut pengertian dengan kadar yang lebih dari biasanya. Kau tak mencoba mencari gadis yang lebih sempurna yang tentu saja ada banyak jumlahnya di luaran sana. Kau memilihku, memilih merenda hubungan dengan gadis yang sangat biasa. Seorang gadis yang sedang sibuk terkurung dalam penjara pendidikan demi sebuah impian. Seorang gadis yang tak selalu ada untukmu setiap waktu dan penuh dengan keterbatasan.


Ah, aku memang benar - benar mengagumimu yang memiliki rasa setia yang tak ada habisnya. Setia membimbingku hingga sekarang aku menjadi makin dewasa. Setia memahamiku dengan segala tingkah polahku. Terimakasih kau selalu ada selama 17.520 jam untuk memperhatikanku walau hanya melalui telepon dan pesan singkat karena kita tak selamanya dapat bertatap. Terimakasih sudah mempercayakan hatimu kepadaku. Tentu kita tidak boleh menyerah dan berhenti berusaha. Namun, apa salahnya untuk yakin bahwa ada tempat yang disiapkan masa depan bagi kita.


Tak pernah terlintas di kepalaku bahwa kita bisa bertahan hingga sekian lama. Masih tak percaya ketika perahu yang kita dayung ternyata bisa berlayar sejauh ini. Walaupun sesekali terhantam badai, kita toh masih utuh dengan layar yang menjulang. Siap menantang badai yang kapan saja akan kembali datang.


Melalui hubungan kita, aku mendewasa, aku kian tegar. Walaupun tentu umur pacaran yang baru seumur jagung, tidak boleh membuat kita sombong. Kita harus kerap mengucap doa, semoga kita memang ditakdirkan bersama.

Sekali lagi kuucapkan padamu, " Terimakasih telah setia sekian lamanya. Semoga masa depan menyediakan untuk kita suatu tempat bersama. "


-26 MEI 2015 -


ard & rose