Rabu, 03 Juni 2015

Karena CInta Mengajarkan Kita untuk Berlapang Dada

Lidahku sempat kelu karena hatiku mati rasa selama beberapa waktu. Leburan rasa kecewa, benci, marah, sedih pernah begitu pekat menyesaki dada. Akupun membencimu beberapa masa, sempat pula berusaha mengenyahkanmu dari dalam sana. Namun, semua usahaku nampaknya sia – sia. Kau masih teguh menunggu, berusaha keras mempertahankan hubungan berdua.
Akupun paham bahwa diam – diam kau ikut terluka dan berduka. Kau menyesali tingkah bodohmu yang membuat jalinan kita terkoyak. Kau mengutuki diri yang sempat dengan sengaja menggurat luka di dadaku. Namun kini, setelah sekian waktu jengah digilas rasa yang ada, hatiku mulai bisa terbuka celahnya.
Aku sadar, manusia tidak ada yang sempurna. Karena itulah, aku memilih untuk memaafkanmu.
Hatiku Pernah kau hancurkan sengan sengaja, membuat tatanan yang kita susun selama ini porak poranda. Tak kuingat kapan tepatnya ketika kau meluluhlantakkan pondasi masa depan yang kita susun berdua. Yang kuingat hanya mendadak hatiku tak mampu merasa. Tak kutemukan tanda – tanda cinta dan sayang yang selalu ada tiap kali kita bersama. Tak ada pula rasa hangat yang diam – diam menyusup masuk ketika mata kita saling berjumpa.
Setelah beberapa detik berusaha meresapi segalanya, barulah rasa kecewa, sedih, marah berbondong – bondong masuk tanpa permisi. Mereka menginjak – injak kenangan manis yang pernah ada, merobohkan menara kepercayaan yang selama ini menjadi kebanggaan, dan pada akhirnya memusnahkan harapan yang terjalin rapi bersama dengan impian.
Sedetik kemuadian tangisku pecah di udara. Tentu pada saat itu kau sudah tak ada. Aku tak sudi menangis di depanmu. Tak sudi menunjukkan wujudku yang sedang babak belur penuh luka di hadapanmu. Aku tak butuh dikasihani, dan aku bersikeras bahwa aku dapat mengatasi perasaan ini sendiri.
Ah, iya sekarang aku ingat, saat itu bulan ke 24 pada awal bulan, saat aku bertemu denganmu untuk kali pertamanya setelah kau menyelesaikan orientasi kepegawaianmu. Ketika aku mengetahui sesuatu yang menyakitkanku.
Sungguh aku berusaha memaafkanmu, namun masih agak berat. Aku ingin kau tahu bahwa pengkhianatan dan kebohongan sangat tajam membaret luka di hati hingga berbekas. Bagaimana tidak kau tahu rasa sakit itu menghujamku, membuatku sesak tak percaya kau begitu. Dan kau membuatku ragu denganmu dalam hal apapun. Berkali – kali ku dengar kau berucap, bahwa hubungan tanpa kepercayaan itu sia- sia dan takan ada gunanya, namun pada kenyataannya kau yang membuatku was – was terhadap cintamu. Aku berusaha diam untuk mencerna dan merasakan pil pahit itu butir demi butir untuk mencari penawarnya.
Namun kemudian aku menyadari, kamu juga porak poranda di dalam sana. Hatimu juga terkoyak sama seperti punyaku. Bukan hanya aku yang terluka, kaupun tengah berduka.
Karena manusia memang tak ada yang sempurna, aku menyadari bahwa aku memang harus memaafkan kealpaan yang pernah kau cipta. Butuh waktu lama memang untukku meresapi dan membuka hati kembali, bersikap seperti dahulu saat tak terjadi apa – apa pada hubungan kita. Aku kemudian baru memahami bahwa penyesalan yang kau bawa sudah cukup menyiksa. Kau pun sama sepertiku, tengah terpuruk dan tak berhenti meratap. Beban yang kau panggul tentu lebih berat dan penyesalan yang kau rasakan sudah cukup menyesakkan. Aku kini paham, kau tengah menghukum diri sendiri.
Aku bukan dewa yang bisa bertitah, sama sepertimu aku juga manusia. Dan tentunya aku tak berhak menghukum demi membuatmu jera. Hal ini juga menyadarkanku bahwa tak ada manusia sempurna yang tak memiliki cela. Aku harus menerima dan memaafkan kesalahan yang pernah kau torehkan. Lagipula aku meyakini jika semua manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Penyesalan yang kau rasa sudah merupakan penghukuman yang layak kau dapatkan. Oleh karena itulah aku melunakkan hati, demi memaafkanmu dan memberi kesempatan satu kali lagi.
Berkat pengalaman yang kita jalani, aku sadari hubungan kita makin dewasa. Aku dan kamu belajar saling membuka hati dan melapangkan dada. Rasa yang ada di dalam hati ini tak bisa berdusta. Ia masih menunjukkan getarannya tiap kali wajahmu melintas di rongga kepala. Penyesalan dan usaha tanpa henti yang kau tunjukkan berhasil membuka hatiku sedikit demi sedikit. Kembali menyuburkan pendar cinta yang tersemai rapi di dalam sana.
Hubungan kita memang layak diperjuangkan, untuk itulah aku memilih untuk memaafkan. Aku tahu, kita sudah berada di level hubungan yang lebih dewasa. Aku belajar banyak dari kesalahan yang pernah ada. Pun masih ada sisa impian dan harapan yang menunggu untuk kita tuntaskan. Takkan kubiarkan kealpaan yang ada membuat kita berhenti berjuang.

Kini, maukah kau berjanji untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan tak mengulangi kesalahan yang sama?