Lidahku sempat
kelu karena hatiku mati rasa selama beberapa waktu. Leburan rasa kecewa, benci,
marah, sedih pernah begitu pekat menyesaki dada. Akupun membencimu beberapa
masa, sempat pula berusaha mengenyahkanmu dari dalam sana. Namun, semua usahaku
nampaknya sia – sia. Kau masih teguh menunggu, berusaha keras mempertahankan
hubungan berdua.
Akupun paham
bahwa diam – diam kau ikut terluka dan berduka. Kau menyesali tingkah bodohmu
yang membuat jalinan kita terkoyak. Kau mengutuki diri yang sempat dengan
sengaja menggurat luka di dadaku. Namun kini, setelah sekian waktu jengah
digilas rasa yang ada, hatiku mulai bisa terbuka celahnya.
Aku sadar,
manusia tidak ada yang sempurna. Karena itulah, aku memilih untuk memaafkanmu.
Hatiku Pernah
kau hancurkan sengan sengaja, membuat tatanan yang kita susun selama ini porak
poranda. Tak kuingat kapan tepatnya ketika kau meluluhlantakkan pondasi masa
depan yang kita susun berdua. Yang kuingat hanya mendadak hatiku tak mampu
merasa. Tak kutemukan tanda – tanda cinta dan sayang yang selalu ada tiap kali
kita bersama. Tak ada pula rasa hangat yang diam – diam menyusup masuk ketika
mata kita saling berjumpa.
Setelah beberapa
detik berusaha meresapi segalanya, barulah rasa kecewa, sedih, marah berbondong
– bondong masuk tanpa permisi. Mereka menginjak – injak kenangan manis yang
pernah ada, merobohkan menara kepercayaan yang selama ini menjadi kebanggaan,
dan pada akhirnya memusnahkan harapan yang terjalin rapi bersama dengan impian.
Sedetik
kemuadian tangisku pecah di udara. Tentu pada saat itu kau sudah tak ada. Aku
tak sudi menangis di depanmu. Tak sudi menunjukkan wujudku yang sedang babak
belur penuh luka di hadapanmu. Aku tak butuh dikasihani, dan aku bersikeras
bahwa aku dapat mengatasi perasaan ini sendiri.
Ah, iya sekarang
aku ingat, saat itu bulan ke 24 pada awal bulan, saat aku bertemu denganmu
untuk kali pertamanya setelah kau menyelesaikan orientasi kepegawaianmu. Ketika
aku mengetahui sesuatu yang menyakitkanku.
Sungguh aku
berusaha memaafkanmu, namun masih agak berat. Aku ingin kau tahu bahwa
pengkhianatan dan kebohongan sangat tajam membaret luka di hati hingga
berbekas. Bagaimana tidak kau tahu rasa sakit itu menghujamku, membuatku sesak
tak percaya kau begitu. Dan kau membuatku ragu denganmu dalam hal apapun.
Berkali – kali ku dengar kau berucap, bahwa hubungan tanpa kepercayaan itu sia-
sia dan takan ada gunanya, namun pada kenyataannya kau yang membuatku was – was
terhadap cintamu. Aku berusaha diam untuk mencerna dan merasakan pil pahit itu
butir demi butir untuk mencari penawarnya.
Namun kemudian
aku menyadari, kamu juga porak poranda di dalam sana. Hatimu juga terkoyak sama
seperti punyaku. Bukan hanya aku yang terluka, kaupun tengah berduka.
Karena manusia
memang tak ada yang sempurna, aku menyadari bahwa aku memang harus memaafkan
kealpaan yang pernah kau cipta. Butuh waktu lama memang untukku meresapi dan
membuka hati kembali, bersikap seperti dahulu saat tak terjadi apa – apa pada
hubungan kita. Aku kemudian baru memahami bahwa penyesalan yang kau bawa sudah
cukup menyiksa. Kau pun sama sepertiku, tengah terpuruk dan tak berhenti
meratap. Beban yang kau panggul tentu lebih berat dan penyesalan yang kau rasakan
sudah cukup menyesakkan. Aku kini paham, kau tengah menghukum diri sendiri.
Aku bukan dewa
yang bisa bertitah, sama sepertimu aku juga manusia. Dan tentunya aku tak
berhak menghukum demi membuatmu jera. Hal ini juga menyadarkanku bahwa tak ada
manusia sempurna yang tak memiliki cela. Aku harus menerima dan memaafkan
kesalahan yang pernah kau torehkan. Lagipula aku meyakini jika semua manusia
berhak mendapatkan kesempatan kedua. Penyesalan yang kau rasa sudah merupakan
penghukuman yang layak kau dapatkan. Oleh karena itulah aku melunakkan hati,
demi memaafkanmu dan memberi kesempatan satu kali lagi.
Berkat
pengalaman yang kita jalani, aku sadari hubungan kita makin dewasa. Aku dan
kamu belajar saling membuka hati dan melapangkan dada. Rasa yang ada di dalam
hati ini tak bisa berdusta. Ia masih menunjukkan getarannya tiap kali wajahmu
melintas di rongga kepala. Penyesalan dan usaha tanpa henti yang kau tunjukkan
berhasil membuka hatiku sedikit demi sedikit. Kembali menyuburkan pendar cinta
yang tersemai rapi di dalam sana.
Hubungan kita
memang layak diperjuangkan, untuk itulah aku memilih untuk memaafkan. Aku tahu,
kita sudah berada di level hubungan yang lebih dewasa. Aku belajar banyak dari
kesalahan yang pernah ada. Pun masih ada sisa impian dan harapan yang menunggu
untuk kita tuntaskan. Takkan kubiarkan kealpaan yang ada membuat kita berhenti
berjuang.
Kini, maukah kau
berjanji untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan tak mengulangi kesalahan
yang sama?

